cause they are my everything

Selasa, Oktober 01, 2013

Jumat, 6 September 2013 saya disambang. Setelah 6 bulan lebih nggak ngerti gimana rasanya disambang (soalnya sebulan sekali langsung pulang kampung). Yah, akhirnya bisa melepas rindu sama bapak, ibu, dan pastinya adek nizar yang cimi cimi :D Siang itu saya cerita panjang lebar tentang semuanya, tentang mimpi saya, tentang tugas sekolah yang seabrek, dan tentang perasaan saya ke seseorang. Dan seperti biasa ibu tak pernah keberatan buat jadi pendengar setia saya. Mau saya gini kek gitu kek, ibu selalu bisa ngasih masukan yang bikin hati saya adem ayem seketika. Kebetulan, saya lagi ngisi scrapbook saya yang baru. Terus ibu tanya "scrapbook baru lagi mbak?". Dan tiba tiba aja, ibu pengen lihat. Eh ternyata ibu sama bapak nulis sesuatu disitu yang bikin saya nangis terharu nggak berhenti berhenti pas mereka balik ke Ponorogo. Padahal udah 5 tahun mondok tapi tetep aja nggak bisa nahan kalo moment kayak gitu. Ini tulisannya ibu:

"Semua kehidupan melalui proses sebagaimana proses perkembangan manusia. Dari lahir, tengkurap, merangkak, sampai bisa berlari. Dengan susah payah tentu! Semua dilalui, penuh perjuangan bukan? Kadang terjatuh, kadang terpeleset, dan tidak jarang juga terluka. Tapi semua manusia ikhlas kan menjalani? Terbukti tidak ada yang menyerah sampai pada proses merangkak saja. Setelah itu, BERMIMPILAH, karena semua manusia wajib punya mimpi. Tanpa mimpi kita tidak akan mau dan mampu berlari. Meskipun terseok seok diawal, kadang menangis, kadang tertekan, tersiksa, dan bahkan hampir putus asa. Tentu tidak akan menyerah. Karena, mimpi belum kita raih. Bagaimana bisa kita raih kalau tidak melalui proses, kalau kita tidak tahan uji alias gampang frustasi dan mengeluh. Sebuah perjuangan tentu butuh pengorbanan dan kesabaran dalam menjalani. Untuk itu, jalani proses hidup ini tahap per tahap dengan penuh keuletan, ketekunan, kerja keras, dan pantang menyerah. Baru, bertawakkal kepada Allah. Tidak akan merasakan rasa manis kalau tidak tahu rasa pahit. Tidak ada rasa senang, kalau tidak tahu kesedihan. Itulah kehidupan. Songsong semua mimpi mimpimu dengan rasa optimis. Jangan ternina bobokkan dengan kecanggihan teknologi yang tidak kau sadari mengikis waktumu untuk meraih mimpi. Pengaruh negatif ada dimana mana. Setan pada masamu bergelar 'profesor'. Berjanjilah pada dirimu sendiri bahwa 'aku mampu menangkis semua itu'. Demi mimpi-mimpimu, demi baktimu pada orang tua, demi kecintaanmu pada bangsa dan negara, dan terutama demi syukurmu pada Allah SWT. Good luck for you!"

Terus dibaliknya bapak juga nulis:

"Anak, aset terbesar dalam kehidupan. Lebih baik menjadi orangtua yang sederhana dengan anak sholeh/sholehah dan berprestasi. Daripada menjadi orangtua yang sukses/kaya raya dengan anak bermasalah. Karena kalau kita tinggalkan gubuk reyot kepada anak sholeh/sholehah dan berprestasi, dalam waktu yang tidak terlalu lama, gubuk reyot tersebut akan berubah menjadi istana yang megah. Dan kalau kita tinggalkan istana megah kepada anak bermasalah, dalam waktu yang tidak terlalu lama, istana megah tersebut akan berubah menjadi gubuk reyot. warisan ilmu itu mutlak, sedang harta hanya penunjang" 

Semua itu membuat saya kembali menoleh ke belakang. Apa yang sudah saya kasih ke keluarga saya? Apa saya bisa membuat mereka bernafas lega dengan kehadiran saya disana? Saya kembali diingatkan untuk belajar bersyukur. Saya memiliki keluarga yang berharga, sempurna dan istimewa. Saya ada ditengah-tengah mereka yang menyayangi saya sepenuhnya, mendukung apapun yang saya lakukan. Saya tak pernah ada tanpa mereka..


regards,
aify zulfa kamalia 

You Might Also Like

0 komentar

Instagram

Popular Posts

Google+ Followers