dari Darul Ulum sampai Bahrul Ulum

Sabtu, Oktober 19, 2013

Cerita ini nggak sesederhana judulnya. Jumat kemarin, saya sama temen-temen keluar ke Jombang kota. Kan kebetulan pas Jumat ketiga bulan ini, jumat keluarnya santriwati. Ceritanya, Kamis malam habis ro'an (kerja bakti) Ifa sama Icha ke kamar saya. Mereka ngajakin saya fitting kain buat jubah angkatan dalam rangka akhirussanah kita pas kelas 3 tahun depan. Kan kita pengen jubahnya kembaran seangkatan, jadi kita jahitin di tantenya temen saya, si Nanda. Dan diantara kita berdelapan yang berangkat, nggak ada satupun yang ngerti dimana alamat butiknya tantenya Nanda. Dan kalau seumpamanya kita tanya Nanda itu nggak mungkin, soalnya dia lagi pulang kampung. Akhirnya kita putuskan buat tanya alamat butiknya ke tantenya Bela. Nah, masalahnya Bela juga lagi pulang dan kita nggak ngerti dimana rumahnya tantenya Bela, namanya Mbak Lala. Jadi intinya, kita nyari 2 alamat. Alamat rumahnya tantenya Bela sama alamat butiknya tantenya Nanda. Bingung kan? Saya sendiri yang ngetik aja bingung :'D

Tujuan pertama nyari rumahnya tantenya Bela. Untungnya, keluar dari pondok kita langsung dapat angkutan yang kita sewa seharian penuh buat nganterin kita keliling Jombang. Kita cuma mengandalkan ingatannya Indah yang pernah ke rumahnya tantenya Bela. Setelah 4 kali menyusuri jalan yang sama dari ujung ke ujung, kita belum ketemu juga sama rumahnya Mbak Lala. Dan itu bikin kita sungkan banget sama bapak supir. Tapi bapak supirnya emang sabar bingit. Pas kita mau nyerah nyari alamat, bapaknya selalu bilang "Lhoh ayo dicari lagi mbak. Saya antar sampai ketemu. Kan rugi kalau udah sampai sini terus balik lagi" . Saya baru tau belakangan, kalu ternyata Indah ke rumahnya Mbak Lala itu 1,5 tahun yang lalu. Gubrak! Kita cuma punya petunjuk : Mbak Lala yang punya toko bangunan. Dan di sepanjang jalan itu ada toko bangunan lebih dari 5. Setelah kita tanya, kesemuanya nggak ada yang punya Mbak Lala. Dan saat kita ada di puncak kesabaran, ada satu anugerah yang bisa bikin kita bernafas agak lega. Jadi kan anak-anak udah pernah tanya ke orang-orang tentang alamatnya Mbak Lala. Tinggal saya yang belum. Jadi pas di toko bangunan terakhir, pas saya yang nanya, ternyata orang yang punya toko bangunan itu kenal Mbak Lala. Dan beliau dengan baiknya, nelfon Mbak Lala. Tapi ternyata yang ada suaminya, dan suaminya itu nggak tau apa-apa tentang butiknya tantenya Nanda. Tapi yasudahlah, setidaknya kita dapet nomor hpnya mbak Lala. Setelah dari toko bangunan itu, kita udah badmood dan capek nyari alamat. Akhirnya, kita putuskan balik arah menuju Jombang kota buat shopping. cieeh :D

Sampe pasar legi Jombang kita nggak nunggu waktu lama buat mborong makanan dan minuman. Udah nggak kuat nahan dari pagi. Habis itu kita ke toko buku Sarjana. Saya udah kangen sama tumpukan buku-buku di etalase :3 Dan kita pengen numpang shalat dhuhur di Tambakberas sekalian nyambangi temen SMP kita yang sekarang mondok disitu. Mereka kembar loh, namanya Yayang sama Riris. Karena kita kasihan sama bapak supir yang udah rela nungguin kita dari pagi, kita nyuruh bapaknya pulang. Eh malah si bapak bilang "Nggak papa mbak saya tungguin disini. Nanti janjian aja sampai jam berapa. Kasihan kalian nanti, nggak dapet angkutan buat balik ke pondok. Kan jarang ada angkutan tujuan ke Darul Ulum". Ya udah deh, kita lega kalo emang bapaknya pengen kayak gitu. Kita di Tambakberas samapi jam 13.30. Dan pas perjalanan pulang, Setya bilang "Rek, kapan -kapan jalan-jalan lagi ya". Padahal belum juga nyampe asrama :D Di sebuah lampu merah bapak supir bilang "Mbak, uangnya dikasihin disini aja ya. Soalnya saya sungkan sama supir yang giliran setelah ini." kita awalnya iuran 20.000 per anak. Eh bapaknya malah minta lebih. Bilang karo dirugikan lah, nggak cukup buat setoran lah. Padahal, dari awal kita berangkat, beliau udah bilang kalau harganya terserah kita asalkan pantas. Kan kita kira Rp 160.000 itu udah lebih dari cukup. Tapi nyatanya, si bapak supir minta nambah lagi 20.000 per anak. Jadinya masing-masing dari kita bayar 40.000. Nggak sebanding banget sama yang kita beli pas di Jombang. Dan akhirnya, bapak supir sukses bikin kita semua jadi murung, nggak punya semangat hidup, dan pastinya bikin dompet kita kempes seketika. Rencananya kita bakal makan siang di warung bakso sebelah pondok, tapi ternyata uang kita amblas duluan. Setya terus-terusan bilang "Nggak papa rek, buat pengalaman". Dia kelihatan paling tegar diantara kita berdelapan. Nggak ngerti gimana asinya. Orang buat bayar denda di pos satpam garagara telat balik aja kita minjem uangnya Setya. Untung Setya bawa uang lebih, coba kalau enggak. Saya nggak bisa bayangin. Finally, ujung-ujungnya kita makan di warung soto yang ada di dalam pondok.


 Nita-Icha-Ifa

 Saya-Indah

 Ajeng-Nuva-Setya

 Ini pas lagi seneng-senengnya dapat nomernya Mbak Lala. Foto di toko bangunan tempat nanya.


 pake khumairoh semua. kemeja yang wajib dipakai kalo keluar pondok


 Di Bahrul Ulum Tambak Beras. Yang pakai atasan cokelat itu Yayang. Si Riris nggak mau ikut foto

 mukanya kusut semua. Pada megang surat keterlambatan datang

"Semua yang ditakdirkan Allah itu pasti ada hikmahnya" --Ifadatul Khoiriah
Pada akhirnya saya belajar arti sebuah kebersamaan. Tentang sebuah pengalaman yang memang berharga mahal. Mahal banget malah. Dibalik itu semua, saya yakin Yang Di Atas punya rencana yang jauh lebih indah dari yang kita kira :)


regards,
aify zulfa kamalia

You Might Also Like

0 komentar

Instagram

Popular Posts

Google+ Followers