Hujan dan Sebuah Cerita

Sabtu, November 23, 2013

Diskusi : Hujan dan Sebuah Cerita - Inspirasi.co (tolong share, comment, sama like nya yaa ;)

Sore itu saya dilanda kesibukan parah di sekolah yang memaksa saya untuk tinggal di kelas lebih lama daripada biasanya. Satu persatu teman saya beranjak pulang ke asrama karena hujan segera turun. Setelah saya selesaikan semua kewajiban saya, sayapun memutuskan untuk pulang. Baru beberapa langkah, mendung berganti hujan deras yang membuat saya berlari kencang seorang diri sampai asrama.
Melihat kantor asrama yang lengang, saya menyempatkan buat istirahat sejenak memulihkan tenaga yang nyaris habis dalam perjalanan pulang tadi.
“Nyari siapa?” tanpa saya sadari sebelumnya, Pak Man, kamtib pondok yang terkenal paling garang diantara semuanya sudah berdiri di sebelah saya
“Enggak Pak. Cuma mau istirahat bentar. Capek habis lari-lari dari sekolah. Bapak sendiri tumben kesini? Mau ngrazia asrama?” saya berusaha menyembunyikan kekagetan saya dengan senyum yang mungkin kelihatan aneh.
“Hahaha..Ternyata gitu ya pandangan kalian tentang saya. Seolah-olah ada ungkapan ‘Dimana ada Pak Man, pasti disitu ada razia’.” Beliau terbahak, “Padahal saya kesini cuma mau silaturahmi, eh malah disini nggak ada orang.” Jawab beliau yang bikin saya agak sungkan
“Maaf, Pak”
“Ah, nggak papa. Ngomong-ngomong kamu nggak buru-buru kan?”
“Enggak, Pak. Bapak butuh bantuan?”
“Baguslah. Kalau kamu nggak buru-buru, saya pengen cerita. Itung-itung buat nunggu hujan reda sebelum kamu balik ke kamar, daripada kamu bengong sendirian disini nggak ada manfaatnya.”
“Iya, Pak. Saya juga lagi suntuk banget sama tugas sekolah yang segudang” saya curcol mendadak jadinya
“Saya bener-bener nggak nyangka akan jadi seperti ini. Asal kamu tahu, kehidupan saya dulu jauh berbeda dari sekarang. Ketika saya umur 10 tahun, bapak saya pergi tanpa pamit menyisakan utang yang menumpuk. Sejak saat itu, saya yang masih ingusan mulai membenci kehidupan” mata beliau menerawang, dan seketika itu luluh semua kegarangan beliau
“2 tahun kemudian, saat ibu saya meninggal karena terlalu banyak beban, saya semakin yakin bahwa kehidupan itu tak adil, dan Tuhan nggak pernah memihak saya. Akhirnya, saya hidup menggelandang. Saya mulai berkenalan dengan kehidupan yang bebas, kehidupan yang jauh dari aturan.” Ceritapun berlanjut dengan didominasi oleh Pak Man yang semangat bercerita, seakan tidak butuh tanggapan. Hanya butuh telinga yang siap mendengar.
“Saya melakukan apapun untuk melanjutkan hidup. Sialnya saya terpengaruh teman saya yang kecanduan narkoba. Awalnya saya nyoba-nyoba, tapi akhirnya ya keterusan. Segalanya jadi makin susah pas saya sakau. Saya mulai berani utang sana, utang sini buat memenuhi kebutuhan saya akan barang terlaknat itu. Hingga suatu hari, ada seorang rentenir yang nagih utang ke saya. Saya nggak punya cukup uang buat nglunasin semuanya, tapi hari itu batas terakhir pelunasan. Dia bawa anak buahnya buat gebukin saya. Saya yang terdesak, refleks nusukin pisau yang selalu saya bawa kemana-mana dibalik baju, ke salah satu anak buahnya. Saya berhasil lolos, dan sempat menjadi buronan hingga saya ditangkap polisi 2 hari kemudian.” Dan saya kembali terkejut untuk kesekian kali. Sesekali saya menimpali sekedarnya.
“Ternyata, penjara mampu membuat saya merenungi kembali apa yang telah terjadi pada hidup saya beberapa tahun belakangan. Saya memutuskan untuk bertaubat, mendekat kembali pada-Nya. Setelah saya bebas, Tuhan menuntun langkah saya untuk ke pondok ini. Saya diterima dengan sepenuh hati oleh Pak Kyai. Saya belajar agama mulai dari nol, dengan dibimbing beliau. Dan setelah saya benar-benar bertaubat, saya menikah dengan seorang wanita yang saya kira akan menjadi labuhan terkhir saya. Tapi nyatanya? 8 bulan lau dia minta cerai gara-gara, saya bilang kalau mau mengabdikan diri sepenuhnya ke pondok ini. Dia takut kalau waktu saya habis untuk pondok. Saat itu juga, saya kembalikan dia ke orangtuanya. Saya yakin dia bukan yang terbaik untuk saya, buktinya dia nggak rela waktu saya pengen terjun total dalam suatu kebaikan.”
“Panjang banget ya ternyata perjuangan bapak sebelum jadi kayak gini. Saya nggak nyangka lo pak, dibalik penampilan bapak yang sangar, ternyata ada sosok yang bijaksana dalam menyikapi hidup.”
“Makanya bersyukur sama Allah udah dikasih kehidupan yang enak. Kamu berpendidikan, cantik, sholihah, hati-hati kalau pilih laki-laki. Cari yang bisa nemenin di semua kondisi, yang bertanggung jawab.” Saya langsung mengamini dalam hati ketika dapat doa mendadak
Sore itu, saya diingatkan kembali untuk lebih mensyukuri apa yang saya punya. Saya percaya, disetiap keadaan selalu ada campur tangan Tuhan, nggak ada yang namanya kebetulan.

“Hidup memang tak selalu sempurna. Tapi, Tuhan tak pernah membiarkan hamba-Nya yang percaya pada takdir-Nya sendirian” --Anonymous


regards,
aify zulfa kamalia

You Might Also Like

0 komentar

Instagram

Popular Posts

Google+ Followers