Subhanallah.. Alhamdulillah.. Allahu Akbar!!

Sabtu, November 29, 2014

"Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? (1) Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu (2) Yang memberatkan punggungmu? (3) Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu (4) Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (5)  Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (6) Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain (7) Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (8)”  -- Q.S Al Insyirah 1-8
Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar! Porseni X telah ditutup hari Jumat, 28 November kemarin. Tapi hingga detik ini, suasananya masih yaa begitulah. Seiring dengan ditutupnya Porseni, social media makin rame. Banyak orang nggak bisa nyantai. Ask.fm juga penuh pertanyaan nggak jelas. Daripada saya ngetik berulang-ulang, saya memutuskan buat 'curhat' disini. 

Jujur, saya nulis ini campur aduk. Antara bahagia, kecewa, sedih, terharu, bangga, dan berbagai perasaan serupa. Ini adalah sebuah perhelatan akbar terakhir sebelum saya lulus dan menjadi alumni Darul Ulum. Beberapa waktu lalu sebelum pertandingan Pak Imam sempat bilang "Hari ini saya nggak mau lihat kucing. Hari ini saya mau lihat macan-macannya DU2 yang bertanding dengan penuh kebhagiaan, tanpa beban!"

Jumat sore, setiap sudut pondok sepi, nggak ada yang mau ketinggalan lihat pertandingan final sepakbola DU2 vs DU1. Kami mempersiapkan semua jauh-jauh hari sebelumnya. Memilih dress code, membuat properti, latihan yel-yel, dll. Jumat pukul 13.00 kita udah kumpul di gedung lama, padahal pertandingan baru dimulai pukul 14.30. Nggak bisa digambarkan dengan kata-kata gimana berdebarnya kita saat itu. Ini bukan cuma pertandingan biasa. Setelah beberapa saat kita berlatih yel-yel, kita langsung istighotsah, baca yasin, sholat ashar, dan akhirnya kita berangkat ke lapangan utama. Merah dimana-mana, merah menggelora, merah siap berlaga. 

Supporter cewek. 


cowok nggak mau ketinggalan

Oh iya, saya ada di barisan di sudut lapangan. Ada adek-adek MI ditengah-tengah kita yang ikutan bantu doa :) Ada ibunya Agil juga, yang nggak pernah putus berdoa

Dimana-mana DU2 harus kompak, dengan akhlak yang terjaga tentunya :)

Kami rindu juara, kami rindu keadilan, Ya Allah :')


Bapak pelatih timnas DU2~



Bang Kaji~

Awalnya kita unggul 1-0. Tapi di menit-menit terakhir pertandingan, keadaan berbalik arah. Suasana makin panas, padahal gerimis terus mengguyur. Karena 'ada suatu kesalahan' dan waktu kian menipis, wasit memutuskan untuk adu pinalti. Semangat kami makin menjadi, doa tak pernah berhenti mengalir. 





Suasana adu pinalti. Penonton merangsek maju ke tengah lapangan




Engkau punya rencana lain, Ya Allah.. Engkau punya keputusan terbaik. Dan Engkau yang paling tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Air mata kami merebak, bahkan sebelum adu pinalti dimulai. Terharu lihat Pak Imam yang berusaha ngasih support ke pemain, sampai beliau menghampiri ke tengah lapangan. Terharu melihat beliau yang begitu berwibawa, tenang, dan mencoba sebisa mungkin mengembalikan semangat kami. Ditengah sorak mereka, kami saling merangkul, saling menenangkan dan meyakinkan bahwa akan ada hari esok yang lebih baik. Ini baru sepak bola, belum yang lain! Iya, masih banyak mimpi kami yang menunggu untuk diraih. 

Kemarin, ba'da shalat dhuha, Pak Imam dawuh panjang lebar.

"Kalian adalah putra-putri kebanggan DU2. Menundukkan orang jenius memang susah, Mengalahkan macan-macan DU2 memang susah sekali, sampai mereka bermain dengan cara lain. Ini bukan kiamat! Kiamat itu kemenangan minus kejujuran. Apa yang bisa dibanggakan dari sebuah kemenangan minus kejujuran? Yang lalu biarlah berlalu, Saatnya bangkit! It's time to show. Kita menang! Kita menang dengan sportivitas. Kita menang dengan akhlakul karimah! Kemarin saat menerima piala, majelis bilang ke saya "Makasih, anak-anak DU2 telah menjaga akhlaq dengan sangat baik dari awal pertandingan hingga sekarang". Kalian juga telah melaksanakan amanat kami. Jangan pernah biarkan orang lain meremehkan DU2." Lalu Pak Imam minta kita buat ngomong "Ya Allah saya ridho, Ya Allah, saya ikhlas".. Seketika, tepuk tangan membahana, tangisan haru memenuhi aula.

Kebetulan, ba'da shalat Dhuhur, Zulfi (salah satu anggota timnas) kebagian jadwal kultum. Dia ngambil tema perjuangan. Dia juga jelasin tentang 'kesalahan' selama pertandingan itu. Setelah dia kultum, anak cowok langsung nyanyiin Happy Birthday buat Zulfi yang ternyata kemarin ulang tahun ke 18. Dia juga menekankan bahwa kitalah pemenang sejati. Cuma beberapa orang diluar sana yang memandang kita sebagai pihak yang kalah, tapi lebih banyak yang nganggep kita sebagai pemenang!! Ya, kita memang kalah --- tapi dengan terhormat.

Mendadak saya juga inget dawuhnya Gus Mamik yang saya catet di notes:
  • Biarlah kemenangan kalian direnggut sistem. Karena sesungguhnya sistem itulah yang kalah. Bukan kalian!
  • Santri DU2 harus punya jiwa dan kepribadian. Tanpa itu, kalian jadi pecundang!
  • Pondok ini mengharapkan anak-anak yang jujur, yang punya komitmen kuat
  • Jangan kejar kemenangan yang bersifat eksplisit!
  • Perlahan tapi pasti, alumni DU2 harus jadi pewarna, pemimpin di zamannya

Usai pertandingan.. 
DU2!! Allahu Akbar, YES WE CAN!!!

Alumni yang nyempatin dateng

Terima kasih buat semua pihak yang udah dukung kami, bantuin doa, ikut sedih padahal bukan sekolahnya yang kalah.. Makasih banyaak :') Kami juga minta maaf, atas semua hal yang mungkin tidak berkenan di hati sebagian orang

Oh iya saya ambil fotonya dari fb nya mas Aji.. Kalau pengen ngerti yang lebih lengkap klik disini

Pesan dari Pak Kaseri~
Awal Porseni dulu, Pak Kaseri bilang "Lebih baik kalah, daripada menang tapi ada yang tersakiti"


 Ya setidaknya kami pernah berjuang. Setidaknya kami telah menjadi macan terbaik kebanggaan SMA Darul Ulum 2. Pada saatnya nanti, luka ini akan terbayar lunas dan tuntas, sebanding dengan kegigihan kami mempertahankan sesuatu sesuai jalan-Nya

 Salam kami anak unggulan
Cerdas, kreatif, dan disiplin
Salam almamater Darul Ulum
Kami santri terbaikmu

Salam kami anak unggulan
Dengan cita-cita luhur
Dengan tonggak iman dan taqwa
Kami terus berkarya

Satukan cita, bangunlah negeri
Kita bersama raih prestasi
Demi bumi persada, Indonesia

~Mars UNGGULAN~

regards,
aify zulfa kamalia

You Might Also Like

0 komentar

Instagram

Popular Posts

Google+ Followers