Keluarga Baru

Sabtu, Juli 22, 2017

"yaudahlah fin, aku udah legowo kok kalau harus nunda KP semester depan"

Kalimat itu akhirnya keluar dari mulut saya setelah melewati proses berpikir dan berjuang yang sangat melelahkan. Ya gimana lagi, hingga H-6 pulang libur lebaran, kami belum juga menemukan instansi untuk melakukan Kerja Praktek. Padahal hampir setiap hari, di sela-sela penelitian seminar, saya dan Alfino menyusuri Jogja dari ujung ke ujung (literally dari ujung ke ujung) padahal lagi kondisi puasa (ah lemah).  Akhirnya pada hari kesekian belum juga mendapat kepastian, saya dan Alfino yang udah lelah sampai pada titik 'mungkin KP semester depan memang yang terbaik'. Padahal kami udah punya target pengen skripsi cepet biar cepet lulus. Di hari itu kami udah bertekat kalau ini merupakan pencarian terakhir. Berbekal panduan Google Maps, kami ke Bantul (tepatnya ke Rumah Sakit Paru-Paru). Begitu sampai lokasi bangunannya udah alih fungsi jadi LSM Pemberdayaan Wanita (kan kzl). Setelah berkeliling sampai dhuhur kami memutuskan untuk mengakhiri pencarian ini. Waktu berhenti di suatu lampu merah, Alfino buka maps lagi dan tiba-tiba dia bilang kalau ada salah satu Balai disekitar situ yang belum kita kunjungi. Akhirnya kami kesana deh. Tapi begitu sampai sana banguanannya juga udah alih fungsi dari yang semula Balai Proteksi Tanaman jadi Balai Perbenihan. Kami kira bangunan itu udah nggak terpakai karena sepi dan bangunan tua, tapi ada seseorang (pada akhirnya kami tahu namanya Bu Siti) yang keluar dari kantor dan nanya keperluan kami apa, dsb. Singkatnya kami memutuskan untuk KP disitu karena prosedurnya nggak ribet dan jaraknya juga nggak terlalu jauh dari kampus.

Tanggal 10 Juli --hari pertama Kerja Praktek saya berangkat bareng Alfino. Jangan ditanya groginya kaya apa. Sampai sana kami disambut Bu Siti dan ternyata kami udah telat setengah jam karena salah info. Di dalam lab udah banyak orang terus dikasih penjelasan sekilas sama Bu Siti. Begitu beliau pergi, saya sama Alfino diajak kenalan sama orang-orang yang udah datang duluan. Ada Mas Agus, Mas Angger, Mas Saha dari UPN dan Mbak Feli dari UKSW Salatiga. Ada juga Mbak Tami si laboran baik hati. Nggak perlu waktu lama untuk akrab sama mereka semua. Semuanya asik, seru, humble, nggak jaim. Rutinitas KP hanya sekitar siram tanaman, inisiasi, sub kultur, bikin media, nyuci botol-botol yang kontaminasi, sama bersih-bersih. Ngga kerasa bosen sama sekali karena banyak bercandanya. Tapi sering gabut juga sampai kami punya markas di ruang rak kultur sebagai tempat ngadem, diskusi, sekaligus ghibah. Interaksi kami nggak hanya terbatas di tempat KP, kami bikin grup Line yang nyaris nggak pernah sepi dan sesekali juga hangout. 



Mbak Feli-- asli Bekasi. Seseorang yang selalu nemu topik obrolan, pasanganku dalam semua kegiatan selama KP (termasuk jagain pintu kamar mandi dan nyapu ruang steril), hobi nyanyi, pecinta oppa oppa, ngga suka kecap, doyan keju, yang sering gregetan waktu inisiasi atau subkultur karena katanya nggak telaten, Selama 2 minggu kami udah berbagi banyak hal, curhat dari lika-liku asmara sampai rencana masa depan. Kisah Mbak Feli hingga akhirnya bisa KP disini lebih lucu dan mengharukan hahaha. 



mas angger - alfino - mas agus - mbak feli - aku - mas raka - mas saha













Mas Angger-- asli Jogja, hobi kecelakaan, mesti adaaa aja yang dikerjain, dulunya gondrong dan harus potong rambut karena nyalon jadi ketua BEM Faperta UPN. Bisa dibilang paling bijak diantara kami semua. 

Mas Saha-- dulunya juga gondrong (tapi bukannya sangar malah kelihatan cantik), asal Purworejo, asisten panutan kami semua. Kelihatannya doang cool, aslinya hmmm. Jago gombal, ngga heran banyak adek-adek yang kecantol. Kalau ngomong datar tapi lucu

Mas Agus-- terbully, dari Ngawi, pengusaha roti bakar Gib-gib (mampir ya di Jl. Wahid Hasyim Jogja), sering molor, sepikannya sekecamatan

Pada akhirnya, 2 minggu nggak kerasa sama sekali. Tahu-tahu udah selesai aja. Ya gimana ya, baru kenal bentar tapi udah deket banget, dari yang awalnya malu-malu sampe malu-maluin. Emang rencana Allah siapa yang tahu. Coba aja kalau dulu saya sama Alfino nyerah, nggak bakal bisa ketemu sama orang-orang ajaib ini. Siangnya setelah perpisahan Mas Saha ngirim sesuatu ke grup yang bikin terharu. Asli sedih banget aku
"Siapa sangka aku pernah bertemu seekor Panda lucu bernama alfino dan seorang anak buah Bu Nyai bernama Aify...Dari yg awalnya aku kira ada om2 nganter anaknya magang sampai akhirnya aku tau klo om sama anaknya bisa bikin suasana jadi riang..."
Semoga hubungan kita ngga berakhir sampai sini aja.  Semoga agenda-agenda kita nggak cuma jadi wacana. Semoga kita nggak saling melupakan. Semoga cepet lulus semua, sukses selalu. Aku pasti selalu rindu :((


anak buah Bu Nyai,
aify

Program Beasiswa DataPrint 2017

Rabu, Juni 14, 2017

Program beasiswa DataPrint telah memasuki tahun ketujuh. Setelah sukses mengadakan program beasiswa di tahun 2011 hingga 2016, maka DataPrint kembali membuat program beasiswa bagi penggunanya yang berstatus pelajar dan mahasiswa.  Hingga saat ini lebih dari 1500 beasiswa telah diberikan bagi penggunanya.

Di tahun 2017 sebanyak 400 beasiswa akan diberikan bagi pendaftar yang terseleksi. Program beasiswa dibagi dalam dua periode. Tidak ada sistem kuota berdasarkan daerah dan atau sekolah/perguruan tinggi. Hal ini bertujuan agar beasiswa dapat diterima secara merata bagi seluruh pengguna DataPrint.  Beasiswa terbagi dalam tiga nominal yaitu Rp 400 ribu, Rp 600 ribu dan Rp 1 juta. Dana beasiswa akan diberikan satu kali bagi peserta yang lolos penilaian. Aspek penilaian berdasarkan dari essay, prestasi dan keaktifan peserta.

Di tahun 2017 ini  ada hadiah khusus juga loh untuk 5 orang peserta yang paling banyak merekomendasikan program ini ke teman-teman. Jika nama lengkapmu dan asal sekolah atau kampus kamu tertera di formulir pendaftaran temanmu (nama pemberi rekomendasi), siap-siap deh kamu akan jadi pemenangnya di akhir periode!

Beasiswa yang dibagikan diharapkan dapat meringankan biaya pendidikan sekaligus mendorong penerima beasiswa untuk lebih berprestasi. Jadi, segera daftarkan diri kamu, klik kolom PENDAFTARAN pada http://beasiswadataprint.com/ !

Like dan follow DataPrint di page facebook DataPrint Indonesia  , Instagram @dataprintindonesia dan twitter @dataprintindo 

Pendaftaran periode 1 : 14 Januari – 20 Juni 2016
Pengumuman                : 12 Juli 2016
Pendaftaran periode 2   : 15 Juli – 21 Desember 2016
Pengumuman                : 5 Januari 2017

PERIODE
JUMLAH PENERIMA BEASISWA
@ Rp 1.000.000@ Rp 600.000@ Rp 400.000
Periode 1
20 orang
30 orang
150 orang
Periode 2
20 orang
30 orang
150 orang

JOGJA DARI UJUNG KE UJUNG

Minggu, April 16, 2017

Rasa-rasanya sudah begitu lama sejak terakhir kali aku nulis blog. Padahal dulu waktu SMA, sebulan bisa sampai 4 post. Padahal sebenarnya sejak semester 2 aku sudah bikin semacam target buat diri sendiri mencakup berbagai hal diluar drama kehidupan kuliah, karena kalau nggak gitu aku nggak akan pernah sempat punya me time yang produktif.  Tapi ternyata nggak semua bisa terlaksana sesuai rencana sih. Kenyataannya, kehidupan kuliah bener-bener menyita waktu (tergantung jurusan sama jumlah SKS juga sebenarnya). Ya kebetulan aku ambil Biologi yang praktikum, proposal, laporan, review jurnal, dsb datang silih berganti tanpa ampun. Alhasil kalaupun ada waktu senggang lebih memilih untuk tidur daripada nulis blog, bikin orderan, atau jalan-jalan. 

Dengan jadwal yang lumayan padet (Senin-Jumat masuk jam 7 pulang hampir maghrib, habis itu nugas), ibu selalu mengingatkan hari libur via WA setiap sabtu pagi. Percakapannya hampir selalu sama 

Ibu: "Mbak ini weekend lo, mau main kemana?"
Aku: "Ngga kemana-mana bu, ngerjain laporan aja"
Dua kalimat itu selalu mewarnai sabtu pagiku. Mungkin diseberang sana ibu antara prihatin dan kzl karena aku balesnya copas doang dari seminggu sebelumnya hahaha. Tapi beberapa hari lalu, ibu ngeWA ngasih tau kalau ada libur panjang dari Jumat-Minggu. Kali ini aku lumayan semangat main karena emang udah penat banget (makasih lo bu).

Oh iya, kali ini teman perjalananku adalah Annisa. Dulu kita satu SMA tapi beda asrama dan nggak pernah sekelas jadi sekedar tau doang tanpa interaksi (parah emang). Sejak kuliah, kami tinggal se-kost jadi lumayan kenal daripada sebelumnya. Sesuai prediksi, Annisa langsung mau dan ngasih beberapa pilihan lokasi. Singkatnya kami sepakat buat ke Wisata Seribu Batu Songgolangit di Mangunan yang jalannya nggak begitu susah. Beberapa hari kemudian Annisa ngusulin buat ke Tebing Breksi sekalian, mumpung kami lumayan free. Kamis malam, grup angkatan SMA khusus yang berdomisili di Jogja (Traver Istimewa) bahas rencana main, kebetulan kami emang udah lama bangeeeet nggak main bareng. Tapi aku menyadari kalau akhirnya hanya akan menjadi wacana dan ternyata terbukti. Alasannya Amar adalah sholat Jumat (oke kalian memang akhi pembimbing ukhti menuju jannah, aku bangga gengs wkwk). Yaudah deh aku berangkat sama Annisa doang sesuai rencana awal jam 07.30

Perjalanan ke Seribu Batu Songgolangit--yang masih di kompleks wisata Mangunan lancar banget dengan mengandalkan ingatan Annisa dan sedikit Google Maps. Aku hanya jadi penumpang karena orientasiku tentang jalan parah banget 



 Oh iya, aku mau bilang makasih bangeeet ke mbak ndut yang berbaik hati ngasih sling bag ini gratis, dikirim dari Surabaya-Jogja dan nggak mau diganti duitnya. Follow instagramnya dulu, siapa tau cocok ( @nurfadilahnofa)


Jadi lokasinya searah sama Hutan Pinus Mangunan, Kebun Buah Mangunan, Puncak Becici, dll. Makanya pemandangannya ya gitu-gitu aja. Yang bikin beda adalah Rumah Hobbit yang menggemaskan sama kreasi dari ranting yang dibikin semacam perkampungan gitu. Tapi kami males antri panjaaang jadi yaudah deh skip aja. Ini ada beberapa foto dari google



 Kalau katanya Oliv fotonya 'bocor'--banyak orang dibelakang (btw itu antrian rumah hobbit). 

 Ceritanya ada tanjakan di ujung jalan. Aku sama Annisa penasaran tapi ternyata seperti tak berujung. Setelah tanya ke seseorang yang turun, ternyata kata dia ada gardu pandang tapi jaraknya 2 km. Ya gila aja, cuma beberapa meter aja nafasku udah nggak karuan :(





Setelah basah kuyup keringetan (ternyata lumayan juga naik turunnya), Annisa bingung mau kemana lagi. Ternyata kalau mau ke Tebing Breksi dari Mangunan itu amat jauh dari jalur kita pulang. Tapi ya akhirnya dijalani sih walaupun pakai drama kesasar + dilewatin jalur sempit ditengah sawah dengan aspal rusak sama Google Maps


sangat susah untuk mendapatkan spot yang nggak bocor -_-






Di Tebing Breksi panas banget karena kami sampai sana jam 12 siang, jadi udah bodo amatlah foto dikit doang. Malah lebih lama istirahatnya di gubuk kecil pinggir sawah di belakang parkiran  motor. Oh iya, kami merasa diberkahi sekali selama perjalanan cuacanya bagus walaupun sesekali mendung. Setiap mendung bentar dan kami udah was-was gitu tiba-tiba cerah lagi.

Jam 1 siang kami memutuskan untuk pulang karena sudah merasa gosong kepanasan. Ternyata Annisa lagi pengen makan mie ayam, jadilah kami mlipir lumayan jauh ke Taman Siswa. Entah kenapa, aku merasa mie ayam terenak ya cuma disana. Mungkin gara-gara waktu les SBMPTN sering kesana karena lumayan deket dari kost waktu itu. Perjalanan dari Tebing Breksi ke Taman Siswa sekitar 50 menit. Kalau dilihat dari Google Maps sih rute kami seharian itu membentuk segitiga. Sampai lutut rasanya kebas kelamaan duduk.

Overall seru banget sih kemarin. Walaupun pergi berdua doang  karena khawatir kalau rombongan malah jadi wacana. Makasih Annisa telah menyanggupi ajakan mainku yang dadakan. Selamat berkutat lagi dengan tugas dan laporan!


regards,
aify zulfa kamalia

Instagram

Popular Posts

Google+ Followers