Sarjana Biologi: Mau Jadi Apa Nanti?

Jumat, Oktober 20, 2017

Dua tahun lalu, seperti kebanyakan siswa SMA di penghujung studi, aku limbung nentuin jurusan kuliah. Karena impian jadi arsitek yang saat itu nggak tertahankan, aku memohon-mohon sama bapak ibu biar dibolehin ambil Teknik Arsitektur UGM di pilihan pertama SNMPTN. Tapi sayangnya bapak ibu nggak sependapat karena beberapa alasan dan malah menyarankan buat ambil Biologi UGM. Sejak kalimat "udah Biologi UGM aja" keluar dari mulut ibu, aku mulai mencoba cari opsi jurusan lain karena saat itu aku sendiri juga nggak pengen berkecimpung di dunia 'sel-jaringan-organ-sistem organ-organisme dan antek-anteknya'. Sebenarnya alasan ibu menyarankan Biologi cukup simple sih, biar ntar bisa jadi dosen yang masih punya waktu luang buat mendampingi fase tumbuh kembang anak-anaknya yang tak akan terulang-- seperti halnya ibu. Padahal aku nggak suka ngajar dan nggak telaten ngajarin orang. 

Setelah Expo Campus (di SMA ku dulu namanya Road to School) dan sharing sama beberapa alumni, aku memutuskan memilih Gizi Kesehatan UGM di pilihan pertama SNMPTN, dan Biologi UGM aku jadikan pilihan kedua. Aku nggak bilang sama sekali ke bapak ibu karena belum pasti disetujui dan beliau taunya aku ambil the one and only Biologi UGM seperti yang mereka inginkan. Sampai akhirnya di web pengumuman SNMPTN, profilku warna ijo. Saat itu ibu yang buka pengumuman tepat jam 5 sore, karena posisiku sedang perjalanan dari Jombang ke Jogja. Aku inget banget gimana tangis bahagianya ibu waktu beliau bilang "Mbak keterima di Biologi UGM. Selamat yaa. Ibu seneng" dan di seberang aku nangis sesenggukan, terpaksa ngaku kalau sebenernya pilihan pertamaku Gizi Kesehatan. 

Itu dua tahun lalu.

Selama berproses dalam waktu 5 semester ini, nggak cuma sekali dua kali, aku bahkan bapak dan ibu dapat pertanyaan/pernyataan semacam,
"Kenapa ngambil biologi? Palingan nanti ujung-ujungnya cuma jadi dosen"
"Sayang nilainya bagus tapi cuma dipake daftar biologi"
"Prodi ilmu murni itu nanti susah masuk dunia kerja, mending prodi terapan aja"
dan beberapa ada yang lebih ekstrim seperti
"Kok nanggung ambilnya biologi? Kenapa nggak sekalian Kedokteran aja?"

Hehehe.

Waktu masih jadi maba dulu, pernyataan semacam itu sempat beberapa kali membuatku minder, goyah dan mempertanyakan alasanku ada di posisi ini selain terikat kontrak dengan sekolah (biar sekolahnya nggak blacklist) dan mewujudkan keinginan bapak ibu. Apalagi dengan UKT selangit yang mengantarkanku menuju gelar S.Si. Ngomong-ngomong tentang UKT, ada kalimat bapak yang selalu aku ingat, "Bapak nguliahkan kamu sampe lulus dengan UKT sekian itu kewajiban. Biar kehidupanmu lebih baik. Nggak pernah sedikitpun ada niatan investasi buat keuangan keluarga kelak. Bapak nggak menuntut untuk nyari pekerjaan dengan gaji besar biar balik modal kuliah. Lagian uang juga bukan penentu kebahagiaan kan." Karena jujur aja, dengan biaya kuliah sekian juta yang harus dibayarkan tiap semester membuatku agak 'terbebani'. Beberapa minggu lalu, Mas Jamal-- alumni DU2 angkatan 6 berbagi sedikit cerita tentang perjuangannya mencari jurusan kuliah sesuai passion. Pada akhirnya, ridho orang tua menentukan segalanya. Kalau udah dapet ridho orang tua, setidaknya segala urusan menjadi dimudahkan. Mungkin aku dulu nggak lolos Gizi Kesehatan juga karena nggak mengantongi ridho dari bapak dan ibu (sekarang udah ikhlas kok). 

Aku yakin banyak jurusan lain yang juga dianggap sebelah mata. Padahal pada dasarnya semua ilmu itu baik dan tak ada kasta yang membuat suatu bidang ilmu lebih baik daripada bidang ilmu yang lain. Lalu, apalagi yang membuat kita merasa layak menghakimi pilihan seseorang? Mungkin adakalanya kita perlu mendengar argumen dari berbagai sudut pandang untuk pertimbangan, tapi apa iya bakal terus-terusan mikirin omongan orang? Lagipula 'spesifikasi' seseorang juga nggak bisa disamaratakan kan.

Semakin kesini aku semakin belajar untuk bersyukur atas apa yang aku miliki sekarang. Nggak semua orang punya kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan tinggi. Mungkin disaat kita lagi ngantuk dengerin penjelasan dosen yang entah kapan kelarnya, di waktu yang sama, di belahan bumi manapun, ada yang menitipkan mimpi-mimpinya dibawah kolong jembatan, ada yang berusaha memendam harapan dengan nyanyian sumbang demi beberapa keping recehan. Bisa saja kita adalah perpanjangan tangan Tuhan untuk mengubah nasib mereka yang kekurangan. 

Seperti yang selalu dikatakan bapak dan ibu, bahwa rencana Tuhan itu pasti lebih indah dari apa yang kita bayangkan. Bahwa tak ada sedikitpun jaminan pekerjaan seseorang akan linear dengan jurusan kuliahnya, begitu pula kesuksesan di masa depan. Semua serba nggak pasti. Yang terpenting sekarang, jalani dengan ikhlas dan sepenuh hati, sertakan Tuhan dalam setiap langkah kehidupan maka tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. 




Jogja
20/10/2017
21:18

Keluarga Baru

Sabtu, Juli 22, 2017

"yaudahlah fin, aku udah legowo kok kalau harus nunda KP semester depan"

Kalimat itu akhirnya keluar dari mulut saya setelah melewati proses berpikir dan berjuang yang sangat melelahkan. Ya gimana lagi, hingga H-6 pulang libur lebaran, kami belum juga menemukan instansi untuk melakukan Kerja Praktek. Padahal hampir setiap hari, di sela-sela penelitian seminar, saya dan Alfino menyusuri Jogja dari ujung ke ujung (literally dari ujung ke ujung) padahal lagi kondisi puasa (ah lemah).  Akhirnya pada hari kesekian belum juga mendapat kepastian, saya dan Alfino yang udah lelah sampai pada titik 'mungkin KP semester depan memang yang terbaik'. Padahal kami udah punya target pengen skripsi cepet biar cepet lulus. Di hari itu kami udah bertekat kalau ini merupakan pencarian terakhir. Berbekal panduan Google Maps, kami ke Bantul (tepatnya ke Rumah Sakit Paru-Paru). Begitu sampai lokasi bangunannya udah alih fungsi jadi LSM Pemberdayaan Wanita (kan kzl). Setelah berkeliling sampai dhuhur kami memutuskan untuk mengakhiri pencarian ini. Waktu berhenti di suatu lampu merah, Alfino buka maps lagi dan tiba-tiba dia bilang kalau ada salah satu Balai disekitar situ yang belum kita kunjungi. Akhirnya kami kesana deh. Tapi begitu sampai sana banguanannya juga udah alih fungsi dari yang semula Balai Proteksi Tanaman jadi Balai Perbenihan. Kami kira bangunan itu udah nggak terpakai karena sepi dan bangunan tua, tapi ada seseorang (pada akhirnya kami tahu namanya Bu Siti) yang keluar dari kantor dan nanya keperluan kami apa, dsb. Singkatnya kami memutuskan untuk KP disitu karena prosedurnya nggak ribet dan jaraknya juga nggak terlalu jauh dari kampus.

Tanggal 10 Juli --hari pertama Kerja Praktek saya berangkat bareng Alfino. Jangan ditanya groginya kaya apa. Sampai sana kami disambut Bu Siti dan ternyata kami udah telat setengah jam karena salah info. Di dalam lab udah banyak orang terus dikasih penjelasan sekilas sama Bu Siti. Begitu beliau pergi, saya sama Alfino diajak kenalan sama orang-orang yang udah datang duluan. Ada Mas Agus, Mas Angger, Mas Saha dari UPN dan Mbak Feli dari UKSW Salatiga. Ada juga Mbak Tami si laboran baik hati. Nggak perlu waktu lama untuk akrab sama mereka semua. Semuanya asik, seru, humble, nggak jaim. Rutinitas KP hanya sekitar siram tanaman, inisiasi, sub kultur, bikin media, nyuci botol-botol yang kontaminasi, sama bersih-bersih. Ngga kerasa bosen sama sekali karena banyak bercandanya. Tapi sering gabut juga sampai kami punya markas di ruang rak kultur sebagai tempat ngadem, diskusi, sekaligus ghibah. Interaksi kami nggak hanya terbatas di tempat KP, kami bikin grup Line yang nyaris nggak pernah sepi dan sesekali juga hangout. 



Mbak Feli-- asli Bekasi. Seseorang yang selalu nemu topik obrolan, pasanganku dalam semua kegiatan selama KP (termasuk jagain pintu kamar mandi dan nyapu ruang steril), hobi nyanyi, pecinta oppa oppa, ngga suka kecap, doyan keju, yang sering gregetan waktu inisiasi atau subkultur karena katanya nggak telaten, Selama 2 minggu kami udah berbagi banyak hal, curhat dari lika-liku asmara sampai rencana masa depan. Kisah Mbak Feli hingga akhirnya bisa KP disini lebih lucu dan mengharukan hahaha. 



mas angger - alfino - mas agus - mbak feli - aku - mas raka - mas saha













Mas Angger-- asli Jogja, hobi kecelakaan, mesti adaaa aja yang dikerjain, dulunya gondrong dan harus potong rambut karena nyalon jadi ketua BEM Faperta UPN. Bisa dibilang paling bijak diantara kami semua. 

Mas Saha-- dulunya juga gondrong (tapi bukannya sangar malah kelihatan cantik), asal Purworejo, asisten panutan kami semua. Kelihatannya doang cool, aslinya hmmm. Jago gombal, ngga heran banyak adek-adek yang kecantol. Kalau ngomong datar tapi lucu

Mas Agus-- terbully, dari Ngawi, pengusaha roti bakar Gib-gib (mampir ya di Jl. Wahid Hasyim Jogja), sering molor, sepikannya sekecamatan

Pada akhirnya, 2 minggu nggak kerasa sama sekali. Tahu-tahu udah selesai aja. Ya gimana ya, baru kenal bentar tapi udah deket banget, dari yang awalnya malu-malu sampe malu-maluin. Emang rencana Allah siapa yang tahu. Coba aja kalau dulu saya sama Alfino nyerah, nggak bakal bisa ketemu sama orang-orang ajaib ini. Siangnya setelah perpisahan Mas Saha ngirim sesuatu ke grup yang bikin terharu. Asli sedih banget aku
"Siapa sangka aku pernah bertemu seekor Panda lucu bernama alfino dan seorang anak buah Bu Nyai bernama Aify...Dari yg awalnya aku kira ada om2 nganter anaknya magang sampai akhirnya aku tau klo om sama anaknya bisa bikin suasana jadi riang..."
Semoga hubungan kita ngga berakhir sampai sini aja.  Semoga agenda-agenda kita nggak cuma jadi wacana. Semoga kita nggak saling melupakan. Semoga cepet lulus semua, sukses selalu. Aku pasti selalu rindu :((


anak buah Bu Nyai,
aify

JOGJA DARI UJUNG KE UJUNG

Minggu, April 16, 2017

Rasa-rasanya sudah begitu lama sejak terakhir kali aku nulis blog. Padahal dulu waktu SMA, sebulan bisa sampai 4 post. Padahal sebenarnya sejak semester 2 aku sudah bikin semacam target buat diri sendiri mencakup berbagai hal diluar drama kehidupan kuliah, karena kalau nggak gitu aku nggak akan pernah sempat punya me time yang produktif.  Tapi ternyata nggak semua bisa terlaksana sesuai rencana sih. Kenyataannya, kehidupan kuliah bener-bener menyita waktu (tergantung jurusan sama jumlah SKS juga sebenarnya). Ya kebetulan aku ambil Biologi yang praktikum, proposal, laporan, review jurnal, dsb datang silih berganti tanpa ampun. Alhasil kalaupun ada waktu senggang lebih memilih untuk tidur daripada nulis blog, bikin orderan, atau jalan-jalan. 

Dengan jadwal yang lumayan padet (Senin-Jumat masuk jam 7 pulang hampir maghrib, habis itu nugas), ibu selalu mengingatkan hari libur via WA setiap sabtu pagi. Percakapannya hampir selalu sama 

Ibu: "Mbak ini weekend lo, mau main kemana?"
Aku: "Ngga kemana-mana bu, ngerjain laporan aja"
Dua kalimat itu selalu mewarnai sabtu pagiku. Mungkin diseberang sana ibu antara prihatin dan kzl karena aku balesnya copas doang dari seminggu sebelumnya hahaha. Tapi beberapa hari lalu, ibu ngeWA ngasih tau kalau ada libur panjang dari Jumat-Minggu. Kali ini aku lumayan semangat main karena emang udah penat banget (makasih lo bu).

Oh iya, kali ini teman perjalananku adalah Annisa. Dulu kita satu SMA tapi beda asrama dan nggak pernah sekelas jadi sekedar tau doang tanpa interaksi (parah emang). Sejak kuliah, kami tinggal se-kost jadi lumayan kenal daripada sebelumnya. Sesuai prediksi, Annisa langsung mau dan ngasih beberapa pilihan lokasi. Singkatnya kami sepakat buat ke Wisata Seribu Batu Songgolangit di Mangunan yang jalannya nggak begitu susah. Beberapa hari kemudian Annisa ngusulin buat ke Tebing Breksi sekalian, mumpung kami lumayan free. Kamis malam, grup angkatan SMA khusus yang berdomisili di Jogja (Traver Istimewa) bahas rencana main, kebetulan kami emang udah lama bangeeeet nggak main bareng. Tapi aku menyadari kalau akhirnya hanya akan menjadi wacana dan ternyata terbukti. Alasannya Amar adalah sholat Jumat (oke kalian memang akhi pembimbing ukhti menuju jannah, aku bangga gengs wkwk). Yaudah deh aku berangkat sama Annisa doang sesuai rencana awal jam 07.30

Perjalanan ke Seribu Batu Songgolangit--yang masih di kompleks wisata Mangunan lancar banget dengan mengandalkan ingatan Annisa dan sedikit Google Maps. Aku hanya jadi penumpang karena orientasiku tentang jalan parah banget 



 Oh iya, aku mau bilang makasih bangeeet ke mbak ndut yang berbaik hati ngasih sling bag ini gratis, dikirim dari Surabaya-Jogja dan nggak mau diganti duitnya. Follow instagramnya dulu, siapa tau cocok ( @nurfadilahnofa)


Jadi lokasinya searah sama Hutan Pinus Mangunan, Kebun Buah Mangunan, Puncak Becici, dll. Makanya pemandangannya ya gitu-gitu aja. Yang bikin beda adalah Rumah Hobbit yang menggemaskan sama kreasi dari ranting yang dibikin semacam perkampungan gitu. Tapi kami males antri panjaaang jadi yaudah deh skip aja. Ini ada beberapa foto dari google



 Kalau katanya Oliv fotonya 'bocor'--banyak orang dibelakang (btw itu antrian rumah hobbit). 

 Ceritanya ada tanjakan di ujung jalan. Aku sama Annisa penasaran tapi ternyata seperti tak berujung. Setelah tanya ke seseorang yang turun, ternyata kata dia ada gardu pandang tapi jaraknya 2 km. Ya gila aja, cuma beberapa meter aja nafasku udah nggak karuan :(





Setelah basah kuyup keringetan (ternyata lumayan juga naik turunnya), Annisa bingung mau kemana lagi. Ternyata kalau mau ke Tebing Breksi dari Mangunan itu amat jauh dari jalur kita pulang. Tapi ya akhirnya dijalani sih walaupun pakai drama kesasar + dilewatin jalur sempit ditengah sawah dengan aspal rusak sama Google Maps


sangat susah untuk mendapatkan spot yang nggak bocor -_-






Di Tebing Breksi panas banget karena kami sampai sana jam 12 siang, jadi udah bodo amatlah foto dikit doang. Malah lebih lama istirahatnya di gubuk kecil pinggir sawah di belakang parkiran  motor. Oh iya, kami merasa diberkahi sekali selama perjalanan cuacanya bagus walaupun sesekali mendung. Setiap mendung bentar dan kami udah was-was gitu tiba-tiba cerah lagi.

Jam 1 siang kami memutuskan untuk pulang karena sudah merasa gosong kepanasan. Ternyata Annisa lagi pengen makan mie ayam, jadilah kami mlipir lumayan jauh ke Taman Siswa. Entah kenapa, aku merasa mie ayam terenak ya cuma disana. Mungkin gara-gara waktu les SBMPTN sering kesana karena lumayan deket dari kost waktu itu. Perjalanan dari Tebing Breksi ke Taman Siswa sekitar 50 menit. Kalau dilihat dari Google Maps sih rute kami seharian itu membentuk segitiga. Sampai lutut rasanya kebas kelamaan duduk.

Overall seru banget sih kemarin. Walaupun pergi berdua doang  karena khawatir kalau rombongan malah jadi wacana. Makasih Annisa telah menyanggupi ajakan mainku yang dadakan. Selamat berkutat lagi dengan tugas dan laporan!


regards,
aify zulfa kamalia

Instagram

Popular Posts

Google+ Followers