Jalan-Jalan ke Pantai Porok: Pusat Penelitian Biomarine Fakultas Biologi UGM

Rabu, Maret 21, 2018

Sejak ngambil mata kuliah Genetika semester 3 lalu, pengetahuanku akan aset fakultas makin meningkat (terus rasanya PPSMB ku nggak bermakna gitu hahaha). Dalam hal ini Pak Budi berperan besar sih. Beliau yang dulunya menjabat Wadek Kemahasiswaan dan sekarang Dekan, hampir setiap awal perkuliahan--sebelum masuk ke materi , ngasih pertanyaan diluar konteks ilmu genetika. Misalkan kapan terakhir kali buka web fakultas, ada kabar terbaru apa tentang kuliah tamu, publikasi ilmiah terbaru, event fakultas, press release, dan yang nggak pernah ketinggalan adalah aset fakultas apa aja yang kami ketahui dan pernah kesana atau belum. Dari beliau aku jadi tahu tentang Pusat Inovasi Agro Teknologi (PIAT) yang tersebar di berbagai wilayah Jogja, Taman Kupu-Kupu yang sudah lama terlupakan, lahan budidaya ulat sutera (lupa namanya), dan yang nggak kalah penting adalah Pantai Porok.

Akhirnya satu demi satu 'the place you should visit' versi mahasiswa Biologi UGM itu terpenuhi di masa studiku yang menginjak semester 6. Telat fy. Nggak papa daripada nggak pernah sampe lulus. Ngga afdhol dong kalau cuma tau Hutan Biologi yang dilewatin tiap hari. Semua ini berawal saat perjalanan pulang dari Bantul, habis main sama Christy ke pantai sama kebun bunga matahari. Aku nggak puas karena pantainya pasir hitam dan kotor gitu. Lalu Christy mengusulkan main lagi ke Pantai Gunung Kidul yang pasir putih dan banyak yang masih bersih. Aku sih percaya aja berhubung dia anggota ahli Kelompok Studi Kelautan (KSK) yang udah melanglang buana buat sampling. Rencananya, kami mau ke Pantai Drini sama Kukup. Di tengah perjalanan Christy nawarin ke Pantai Porok setelah tahu aku belum pernah kesana. 

Kami sampai Pantai Kukup sekitar jam 1 siang kemudian makan siang dan langsung ke lokasi Pantai Porok jalan kaki. Aku buta mata angin jadi nggak bisa memberi instruksi dengan jelas kemana arahnya. Karena memang pantainya tersembunyi dan nggak dibuka untuk umum. Maksutnya nggak ada biaya masuk, dsb. Bener-bener masih asri. Jalan kakinya lumayan juga sih buat aku yang sangat jarang olahraga. Jadi kami lewat sawah ladang warga yang konturnya naik turun gitu. Karena panasnya minta ampun, kami memutuskan buat berteduh dulu di area perkemahannya. Banyak pohon cemaranya jadi teduh. Menjelang jam 3 sore kami baru turun ke pantai. 







Bagusnya kebangetan sih. Mungkin karena ini pusat penelitian jadi memang harus dijaga ekosistemnya dan nggak dibuka untuk umum. Didukung sama lokasinya yang tersembunyi jadi cuma sedikit orang yang tau. Saat itu pengunjungnya cuma aku sama Christy. Feels like our private beach haha



Beberapa kali disapa warga sekitar yang lagi di sawah


Di ujung sawah-sawah itu ada lahan teduh yang aku bilang sebelumnya buat camping. Nah disana ada plang ini yang kondisinya mengenaskan. Aku baru tahu juga sih kalau kerjasamanya sama MM FEB



Gubuk kecil itu iconic spot nya Pantai Kukup yang kelihatan jelas dari Pantai Porok. Ya namanya juga tetanggaan. Katanya Christy untuk ke Pantai Porok kalau pas surut bisa jalan lewat bawah menyusuri garis pantai dari Kukup. Nggak perlu naik turun perbukitan kaya waktu kami berangkat. Tapi setelah nunggu sampai jam 4 sore nggak ada tanda-tanda surut, jadi ya terpaksa kami pulang lewat jalur yang sama. 



Akhirnya Christy punya foto di pantai yang lumayan bagus. Biasanya dia ke pantai buat sampling, nginep semalem, dini harinya jalan susur pantai nyari spesimen buat diidentifikasi. 


Oh iya, pagi harinya kami ke Pantai Drini dulu yang udah mainstream hahaha. Disana cuma bentar habis itu diajakin Christy ke 'Taman Laut'. Nama aslinya nggak tahu sih, tapi anak KSK biasanya nyebut Taman Laut karena ada lapangan rumput luas menuju ke pantai. Kesananya juga jalan kaki dari Drini. Yang ini jalurnya parah, apalagi habis hujan kan. Aku yang nggak ngerti jalurnya bakal kaya gitu, pakenya sandal Crocs, jadi licin wkwk. Sebenarnya di beberapa tanjakan ada bambu di pinggir buat pegangan tapi udah banyak yang ambruk mungkin karena hujan deras dan jarang ada yang singgah. Berangkatnya kami istirahat satu kali di lapangan rumput setelah turun dari bukit. Iya aku emang lemah, Christy masih bugar berasa jalan santai :')


Difoto dari atas bukit


Dan setelah perjuangan panjang yang meletihkan, akhirnya surga tersembunyinya ketemu. Waktu itu cuma ada aku, Christy, sama dua orang laki-laki yang lagi mancing. Kebetulan tebingnya juga nggak curam jadi masih bisa lah naik-naik



salam hangat dari kami berdua,
Aify dan Cici







Popular Posts

Google+ Followers